Iklan

Mie Ayam RR, Jakarta Barat - Tetap Sedekah Walau Berdagang Sederhana

faridhi faqih

Setiap jam 10 pagi, Susianti Hayuningtyas datang ke daerah Kebon Jeruk. Diantarkan sang suami, perempuan yang akrab disapa Susi ini siap menyajikan mie ayam untuk warga perumahan maupun perkantoran di sekitar Kebon Jeruk. Mie Ayam RR, tertulis di spanduk hijau sederhana menutup rombong mie ayam. 

Sejak 2001, tepatnya sejak lulus SMA, Susi mulai memberanikan diri untuk berdagang. Sejak belia, dirinya memang sudah mencintai dunia wirausaha. Mulai dari makanan ringan hingga minuman dingin pernah ia coba. Susi yang juga hobi kuliner ini pun lantas belajar membuat mie ayam pada pamannya yang sudah lebih dulu berdagang. “Saya belajar dari paman. Mulai dari membuat bumbu, hingga mengolah ayam agar enak,” kenangnya.


Akhirnya, Susi pun mulai berdagang di dalam gang-gang pemukiman Jakarta. Dirinya sering berpindah-pindah tempat. Namun, karena menikah, dirinya sempat vakum dan ikut kerja pada orang. “Tapi naluri berdagang memang kuat. Saya memutuskan untuk dagang mie ayam lagi,” ujar perempuan berusia 37 tahun ini.


Susi pun  mulai merintis lagi usahanya. Dengan bekal pengalaman dan resep yang ia punya, dirinya mulai berdagang di sekitar Kebon Jeruk. “Karena dulu rumah saya masih di daerah Bintaro, jadi sangat jauh untuk kesini. Sekitar satu jam perjalanan,” kenang Susi. Perjuangannya tak hanya sampai situ. Susi masih sering berpindah-pindah lokasi karena banyaknya pembangunan. 


BACA JUGA: Kisah-kisah menginspirasi lainnya


“Dulu di depan salah satu ruko, tapi disuruh pindah karena pembangunan. Lalu pindah lagi di depan rumah orang. Dan alhamdulillah sekarang dapat tempat yang enak di depan kantor ekspedisi ini,” papar ibu dua orang anak ini. Di sini, Susi mendapat banyak pelanggan, mulai dari pekerja kantoran hingga warga perumahan yang sedang mencari makan siang.


Setiap hari, Susi mulai kegiatan berdagang sejak pukul 07.00 WIB. “Saya sangat santai dalam berdagang ini. Ke pasar nggak harus Subuh. Lalu mulai masak baru jam 07.30 WIB. Dan sampai ke lokasi jam 10.00 WIB. Nanti tutup saat Maghrib,” jelasnya. Semuanya ia siapkan dan kerjakan sendiri dan dibantu sang suami untuk menyiapkan gerobak serta masak air.


Dalam sehari, Susi bisa menghabiskan sekitar 5 kg mie dan 3 kg ayam. “Semuanya saya buat fresh di hari yang sama sehingga tidak pakai bahan sisa di hari sebelumnya,” tambahnya. Dengan harga Rp 12.000,- saja pelanggan sudah bisa menikmati semangkuk mie ayam dan Rp 13.000,- jika ditambah dengan siomay. Rasanya pun berkualitas restoran meski lokasi di pinggiran. Sekitar 50 mangkok mie ayam laris dalam sehari.


Setelah lebih dari 15 tahun berdagang mulai dari harga mie ayam Rp 5000,-, Susi pun merasakan berbagai suka dukanya. Mulai dari merasa lelah karena harus mengerjakan semuanya sendiri, sampai libur yang hanya sebulan dua kali. “Tapi tentu semua saya jalani dengan senang hati karena ini hobi saya. Semoga nantinya saya bisa punya kios agar pelanggan lebih nyaman,” ujarnya penuh harap.


BACA JUGA: Membangun Motivasi Diri Sendiri


Meski disibukkan dengan usahanya ini, Susi tak mau melupakan kewajibannya untuk berzakat. Dirinya mulai mengenal Yatim Mandiri sekitar 2 tahun lalu. “Saat itu ada salah satu karyawan Yatim Mandiri makan di sini. Lalu bercerita tentang Yatim Mandiri dan mengajak saya berdonasi,” kenang Susi.


Sejak saat itu, Susi menjadi donatur rutin Yatim Mandiri. Dirinya merasa sangat mudah untuk membantu anak yatim dan dhuafa karena selalu diingatkan serta bisa jemput donasi. “Senang sekali saya kalau ada yang kesini jemput donasi. Bisa silaturahim juga,” ucapnya. 


Bagi Susi, berdagang sederhana tak menghalanginya untuk selalu berbagi dengan yang membutuhkan. “Meski sedikit, yang penting rutin dan ikhlas. Karena saya yakin sedekah dan zakat tidak mengurangi rezeki kita,” paparnya. Susi pun merasakan banyak manfaat setelah menjadi donatur. “Alhamdulillah urusan berdagang jadi dimudahkan oleh Allah, serta rasanya ada kepuasan batin tersendiri,” tutupnya. (grc)


SUMBER : YATIM MANDIRI

Related Posts

Copyright © 2019 faridhi faqih - Bojonegoro - Indonesia